June 3, 2025

MEMAAFKAN TAPI TIDAK MELUPAKAN!

Katanya, kalau kita benar-benar memaafkan, kita juga harus melupakan. Tapi bagi saya, kalimat itu terdengar seperti disuruh mencuci luka dengan sabun cuci piring—bersih sih, tapi perihnya nggak ketulungan.

Saya memaafkan, karena hidup terlalu singkat untuk memelihara dendam. Tapi saya juga tidak melupakan, karena hidup terlalu berharga untuk jatuh di lubang yang sama dua kali—apalagi tiga kali, dengan lubang yang jelas-jelas sudah saya pasang plang: “AWAS TOXIC!”

Melupakan bukan syarat mutlak dari memaafkan. Justru mengingatlah yang membuat saya bisa belajar. Saya ingat bagaimana rasanya dikhianati, diremehkan, atau ditertawakan saat sedang jatuh. Bukan untuk mengutuk, tapi untuk membentuk batas. Karena memaafkan bukan berarti membuka pintu lebar-lebar untuk dilukai lagi.

Kadang, orang mengira kalau kita masih mengingat rasa sakit, artinya kita belum move on. Padahal, justru karena saya sudah move on, saya bisa menatap kenangan itu tanpa gemetar. Saya bisa mengingatnya, tersenyum, dan berkata dalam hati, “Terima kasih ya, kamu pernah ajari saya tentang siapa yang tak perlu dipertahankan.”

Memaafkan adalah tentang melepaskan beban. Tidak melupakan adalah tentang menjaga pelajaran. Dan bagi saya, dua hal itu bisa jalan bareng, tanpa saling bertentangan.

May 21, 2025

Strange Feeling "Funny, the feeling come from distance"

 Aku nggak pernah menyangka, dari sekian banyak orang di dunia ini, hatiku justru tertarik pada seseorang yang… bahkan tidak tinggal di negara yang sama denganku. Kita baru bertemu beberapa kali, tapi entah kenapa, rasanya cukup untuk membuat aku berpikir, “Kenapa dia yang terus kepikiran, ya?”

Ini bukan cerita cinta dramatis ala film—nggak ada momen slow motion atau tatapan di bawah hujan. Tapi ada hal kecil yang nyangkut. Caranya bicara. Caranya senyum. Caranya membuat aku merasa nyambung, meski beda bahasa ibu dan zona waktu.

Kadang aku mikir, mungkin ini cuma perasaan sesaat, efek ketemu orang yang beda dan menarik. Tapi semakin aku pikir, semakin aku merasa, bahwa ada hal yang nggak bisa dijelaskan cuma pakai logika. Mungkin ini cuma rasa kagum. Mungkin juga lebih. Tapi hari ini, aku nggak buru-buru cari tahu. Aku cuma ingin jujur ke diri sendiri... bahwa aku suka perasaan ini.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah semesta sedang bercanda ketika mempertemukan dua orang dari dua negara berbeda, dengan jarak ribuan kilometer, tapi dengan perasaan yang tumbuh seperti mereka cuma dipisahkan satu meja kafe?

Aku nggak tahu apa ini sekadar rasa suka yang lewat sebentar, atau ada benih yang tumbuh diam-diam di sela-sela pertemuan singkat dan obrolan ringan. Tapi yang aku tahu, setiap kali mengingat senyumnya, cara dia bicara, atau bahkan keanehan kecilnya yang random, hatiku kayak ditarik pelan-pelan ke arahnya.

Lucunya, aku juga tahu, kita berdua hidup di dunia yang nyata—bukan di novel, bukan di film, bukan di mimpi. Ada jarak, ada kesibukan, ada kehidupan masing-masing. Tapi bukankah justru di situ tantangannya? Saat perasaan datang tanpa memedulikan logika, tanpa mempedulikan koordinat di peta?

Mungkin ini cuma cerita kecilku. Tapi kalau dia tahu... mungkin dia akan tersenyum juga.

**********************************

Never thought that out of all the people in the world, my heart would be drawn to someone who… doesn’t even live in the same country as me. We’ve only met a few times, but somehow, it’s enough to make me think, “Why is he the one I keep thinking about?”

This isn’t a dramatic love story like a movie—no slow-motion moments or staring in the rain. But there’s something small that sticks. The way he talks. The way he smiles. The way he makes me feel connected, even though we’re in different languages ​​and time zones.

Sometimes I think, maybe this is just a momentary feeling, the effect of meeting someone different and interesting. But the more I think, the more I feel, that there are things that can’t be explained with logic alone. Maybe it’s just admiration. Maybe it’s more. But today, I’m in no rush to find out. I just want to be honest with myself… that I like this feeling.

Sometimes I wonder, is the universe joking when it brings together two people from two different countries, thousands of kilometers apart, but with feelings that grow as if they were only separated by a cafe table?

I don't know if this is just a passing crush, or if there is a seed that grows quietly in between brief encounters and small talk. But what I do know is, every time I remember his smile, the way he talks, or even his random little quirks, my heart feels like it's being slowly pulled towards him.

The funny thing is, I also know, we both live in the real world—not in a novel, not in a movie, not in a dream. There is distance, there are busyness, there are our own lives. But isn't that the challenge? When feelings come without regard for logic, without regard for coordinates on a map?

Maybe this is just my little story. But if he knew... maybe he would smile too.

April 23, 2025

Forgiving vs. Forgetting

December 2020 ....

Hari terakhir gw bicara secara normal dan abnormal dengannya. Sikapnya yang acuh dan berusaha terlihat "bersih" semakin membuat gw emosi. Sampai dengan Februari 2025, sejak saat itu we didn't talk to each other, meski statementnya yang disampaikan berbeda ddengan yang dilakukan. Awalnya sakit hati dengan sikap itu, tapi di satu titik gw dapat mengerti siakpnya memposisikan gw seperti sampah. So, I decided to support what he did and treated me. Funny thing happens, all those silly feelings just gone, the hurt, the pain, the missing, the sadness, all dissapeard. I am OK

March 2025 .....

Being busy with work helps me to think of nothing about him. I was enjoying my work managing all the participants at the event. 54 people got invited. On the third day. "Please, don't upload anything," that voice suddenly showed up and was heard clearly. Without any signs or bulshit, hello, just said like that!
Well, there was a person who treated me like I was some garbage that didn't deserve to be treated like a human, and that person talked to me. I was surprised, just didn't understand a happy one or a scary one!

APRIL 2025

Memaafkan atau melupakan, mana yang lebih baik dilakukan, karena I think we can not do both at the same time. Aku memaafkan tapi surely, can not forget it, yet. Mana dari kedua hal tersebut jika kita lakukan menjadikan kita pribadi yang baik, entah di mata manusia atau Tuhan.Apakah begitu salahnya saat kita mengatakan yang sesungguhnya tentang sesuatu tanpa sengaja, sehingga kita pantas diperlakukan seperti sampah? Atau itu cara halus menutupi kesalahan agar terlihat memperbaiki, namun sebenarnya mencari cara baru untuk membohongi kembali???