Katanya, kalau kita benar-benar memaafkan, kita juga harus melupakan. Tapi bagi saya, kalimat itu terdengar seperti disuruh mencuci luka dengan sabun cuci piring—bersih sih, tapi perihnya nggak ketulungan.
Saya memaafkan, karena hidup terlalu singkat untuk memelihara dendam. Tapi saya juga tidak melupakan, karena hidup terlalu berharga untuk jatuh di lubang yang sama dua kali—apalagi tiga kali, dengan lubang yang jelas-jelas sudah saya pasang plang: “AWAS TOXIC!”
Melupakan bukan syarat mutlak dari memaafkan. Justru mengingatlah yang membuat saya bisa belajar. Saya ingat bagaimana rasanya dikhianati, diremehkan, atau ditertawakan saat sedang jatuh. Bukan untuk mengutuk, tapi untuk membentuk batas. Karena memaafkan bukan berarti membuka pintu lebar-lebar untuk dilukai lagi.
Kadang, orang mengira kalau kita masih mengingat rasa sakit, artinya kita belum move on. Padahal, justru karena saya sudah move on, saya bisa menatap kenangan itu tanpa gemetar. Saya bisa mengingatnya, tersenyum, dan berkata dalam hati, “Terima kasih ya, kamu pernah ajari saya tentang siapa yang tak perlu dipertahankan.”
Memaafkan adalah tentang melepaskan beban. Tidak melupakan adalah tentang menjaga pelajaran. Dan bagi saya, dua hal itu bisa jalan bareng, tanpa saling bertentangan.