Angin sore berhembus merengkuh setiap sudut hatiku
ku terduduk dalam hening sepi suara hatiku sendiri,
ku coba teriakan suara ku namun semua itu hilang didalam kabut sepi alam
ku ulangi kembali, ku ulangi kembali, dan ku ulangi kembali
tetapi semua itu hanyalah sebuah usaha kesia-siaan yang tergambar di langit sore...
aku tidak mengerti mengapa kepergianmu menghadirkan kesunyian dalam hatiku
seharusnya aku melompat gembira akan kehilangan itu
Aku dan Hatiku bagai sisi mata uang yang dicipta oleh yang Kuasa
kami beda tapi satu....
demikian juga dalam menghadapi mu hai pemuda bodoh....
Aku memilikimu dengan segala logika yang bermain dalam pikiran ku
tetapi Hatiku memilikimu dengan semua curahan perasaan yg Tuhan tuangkan ke dalamnya..
Hai pemuda bodoh,
Aku selalu menilai cintaku hanyalah satu permainan hidup yang cukup mengasyikan,
akan tetapi keberadaan dirimu pemuda bodoh adalah beda bagi Hatiku,
baginya engkau sesuatu yang memiliki arti terdalam yang tiada akhir...
Dan aku mentertawakan ketidakmampuan Hatiku mengusir bayangmu Pemuda bodoh
berharap gelak tawaku dapat menamparnya hingga menyadari apa yang ia lakukan adalah kesia-siaan...
Dan sekarang aku berhasil membuat Hatiku mengusirmu hai Pemuda bodoh,
membuangmu ke dalam jurang kekosongan yang dimiliki oleh Hatiku...
Ku kira aku telah berjaya dengan kemenanganku
dan aku bersukacita akan hal tersebut....
sampai sore ini ku sadari jurang tempat aku membuangmu Hai Pemuda bodoh
adalah jurang yang hanya dimiliki oleh Hatiku...
Aku tidak mengusir mu Hai Pemuda Bodoh aku hanya menanam mu lebih dalam pada tanah Hatiku...
No comments:
Post a Comment